SMP Negeri 5 Kota Probolinggo terus memperkuat komitmennya dalam membangun karakter peserta didik melalui inovasi pendidikan bertajuk SI TAJAM (Sistem Tahfidz Juz Amma). Program tersebut dirancang sebagai pembiasaan menghafal Al Qur’an secara sistematis dengan target setiap peserta didik mampu menyelesaikan hafalan minimal Juz 30 sebelum menamatkan pendidikan di sekolah tersebut.
Kepala SMP Negeri 5 Kota Probolinggo, David Jonatha Badra, mengatakan bahwa SI TAJAM lahir sebagai respons terhadap tantangan pendidikan di era digital yang tidak hanya menuntut kecerdasan akademik, tetapi juga penguatan karakter dan nilai-nilai spiritual peserta didik.
“Perkembangan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan terhadap pembentukan karakter generasi muda. Melalui SI TAJAM kami ingin menghadirkan budaya sekolah yang mampu menumbuhkan kecintaan peserta didik kepada Al Qur’an sejak dini. Harapannya, mereka tidak hanya mampu menghafal Juz 30, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujar David.
Menurutnya, selama ini kegiatan tahfidz di berbagai sekolah umumnya masih bersifat insidental atau hanya menjadi bagian dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kondisi tersebut membuat capaian hafalan setiap peserta didik berbeda-beda dan belum memiliki standar yang terukur.
Melalui SI TAJAM, SMP Negeri 5 Kota Probolinggo membangun sistem pembinaan tahfidz yang dilakukan secara berjenjang mulai dari pemetaan kemampuan awal peserta didik, penyusunan target hafalan sesuai tingkat kelas, pelaksanaan setoran hafalan secara rutin, hingga evaluasi berkala terhadap perkembangan setiap siswa.
Selain melibatkan guru Pendidikan Agama Islam, program tersebut juga mendorong keterlibatan wali kelas dan orang tua agar proses pembiasaan menghafal Al Qur’an tetap berlangsung ketika peserta didik berada di rumah.
“Keberhasilan tahfidz tidak cukup hanya dilakukan di sekolah. Kami membangun kolaborasi bersama orang tua sehingga pembiasaan menghafal Al Qur’an menjadi bagian dari aktivitas harian peserta didik, baik di lingkungan sekolah maupun keluarga,” jelasnya.
David menambahkan, SI TAJAM tidak hanya berorientasi pada jumlah hafalan yang dicapai, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter religius, disiplin, tanggung jawab, serta akhlakul karimah sebagai bekal peserta didik menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.
Ia menilai pendidikan karakter harus menjadi pondasi utama dalam mencetak generasi yang unggul. Karena itu, sekolah berupaya menjadikan kegiatan tahfidz sebagai budaya yang tumbuh dan mengakar di lingkungan SMP Negeri 5 Kota Probolinggo.
“Inovasi ini merupakan investasi jangka panjang dalam membentuk sumber daya manusia yang berkarakter. Kami ingin lulusan SMP Negeri 5 tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga mempunyai kedekatan dengan Al Qur’an sehingga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mampu menjadi pedoman dalam bersikap dan mengambil keputusan di masa depan,” ungkap David.
SI TAJAM dikembangkan oleh Tim SiTajam SMP Negeri 5 Probolinggo. sebagai inovasi pelayanan pendidikan non digital di lingkungan SMP Negeri 5 Kota Probolinggo. Melalui pendekatan yang sistematis, program ini diharapkan menjadi model pembelajaran tahfidz yang mampu memperkuat budaya religius di sekolah sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam membangun generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan berdaya saing.

Beri Komentar